Senin, 16 Mei 2011

KELINCI UNTUK MASYARAKAT

Di Indonesia ternak kelinci mempunyai kemampuan kompetitif untuk bersaing dengan sumber daging lain dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia ( kebutuhan gizi) dan merupakan alternatif penyedia daging yang perlu dipertimbangkan dimasa datang, daging kelinci merupakan salah satu daging yang berkualitas baik dan layak dikonsumsi oleh berbagai kelas lapisan masyarakat. Menurut Sartika et al. (1998) dari seekor induk yang dipelihara selama 1 tahun dapat menghasilkan sebanyak 117 kg daging untuk kelinci Ras biasa dan 144 kg daging untuk kelinci Hybreed pada pemeliharaan secara intensif dan manajemen yang baik. Hal tersebut dikarenakan ternak kelinci bersifat prolifik (6 – 12 ekor anak per kelahiran) dan jarak antar kelahiran yang pendek (sekitar 3 bulan). Sedangkan prosentase karkas kelinci mencapai 42,6 sampai 46,7%.

Keberadaan ternak kelinci bagi manusia dapat dimanfaatkan dalam berbagai hasil produk. Hasil pemotongan ternak kelinci menghasilkan daging dan kulit bulu. Melalui serangkaian kegiatan (proses) dan penambahan beberapa bahan lain maka dapat dihasilkan bahan pangan (nugget, bakso, burger, sosis, sate, dll.) maupun bahan industri kerajinan kulit (tas, mantel, hiasan, dll.). Produk lain dari ternak kelinci adalah ternak sebagai binatang kesayangan dan penghasil kotoran untuk pupuk. Beberapa tipe kelinci sebagai ternak kesayangan mempunyai nilai harga harga yang lebih baik dibanding ternak kelinci pedaging. Sedangkan kotoran ternak (feses, air kencing dan sisa hijauan) setelah diproses menjadi kompos berguna sebagai penyubur tanah maupun tanaman.

FAREL dan RAHARJO (1994) mengatakan bahwa kelinci sapihan dapat menghasilkan kotoran sebanyak 28 gram kotoran lunak atau setara dengan 3 gram protein/hari/ekor. Penggunaan kotoran kelinci dengan tambahan probiotik (kompos) berguna untuk kesuburan tanah dan tanaman dan telah dilakukan percobaan skala penelitian. SAJIMIN et al. (2005) mengatakan bahwa penggunaan kompos kelinci dengan feses kelinci ditambah probiotik kandungan bahan organik dengan C/N ratio (11−12%) lebih baik dibanding tanpa probion C/N (10%)..

Permasalahan yang ada saat ini adalah terbatasnya populasi kelinci dan sulitnya mencari bibit menjadi kendala utama untuk pengembangannya, ditambah kurangnya pengetahuan budidaya sehingga kematian kelinci masih cukup tinggi. Oleh karena itu diperlukan upaya yang nyata guna memperbanyak populasi kelinci dan pembentukan bibit kelinci berkualitas yang salah satunya menggunakan konsep pembibitan “open nucleus breeding system” dalam hal ini harus ada keterkaitan antara Breeding Centre (inti), farmer breeder (multiplier) dan peternak langsung seperti dinyatakan oleh Sartika, (1998).

Tidak ada komentar: